Berita

Jumat, 16 Oktober 2015

Baru-baru ini YAKKUM mengelar acara Pelatihan Pendampingan Terhadap Orang Sakit di Yogyakarta. Kegiatan yang ditujukan untuk warga atau aktivis gereja pendiri YAKKUM ini terselenggara dengan menggandeng Lembaga Pembinaan dan Pengaderan Sinode (LPPS) GKJ-GKI SW Jateng. Karena besarnya minat warga gereja mengenai pelatihan tersebut, kegiatan ini sampai digelar dalam dua tahap (11/8 dan 22/9). Nara sumber yang membawakan materi adalah tenaga Pastoral RS. Panti Wilasa Dr. CiptoSemarang, Kartika Purwandari S.Th.

Secara keseluruhan, peserta yang hadir dalam dua kali acara 94 orang. Mereka berasal dari gereja yang berada di Yogyakarta dan sekitarnya. Ada juga yang berasal dari Purworejo, wilayah Klaten, dan Surakarta. Pelatihan sehari tersebut dikemas dalam dua bentuk, berupa pemaparan serta tanya jawab dan simulasi pendampingan pastoral.

 

Orang Sakit dan Pendampingan

Sakit penyakit seseorang sering menyebabkan kondisi kurang nyaman. Imbas adalah dinginnya hubungan antar individu dengan seseorang yang sedang menderita sakit. Adanya perhatian, penghiburan, pertolongan, serta pengobatan menjadi kebutuhan bagi orang yang sakit. Berdasar pada kondisi tersebut dirasa perlu peran pendamping untuk memberikan penguatan selama proses penyembuhan. Sesorang pendamping yang rela berempati kepada orang lain yang sedang sakit.

Semua orang dapat mengambil peran sebagai pendamping bagi seseorang yang sedang sakit, namun kenyataannya tidak semua orang bersedia menjadi pendamping. Kerelaan dan empati bagi orang sakit perlu ditumbuhkan terlebih dahulu. Keduanya (rela dan empati) butuh diasah agar dapat dipergunakan untuk memahami kondisi orang lain khususnya yang sedang didera penyakit. Memang bukan persoalan mudah tetapi ada peluang untuk menjadi seorang pendamping, salah satunya adalah pelatihan semacam ini.

 

Dalam sesinya,nara sumber memberikan keterangan bahwa seorang pendamping memiliki kesadaran bahwa dirinya diutus Tuhan untuk mendampingi yang sedang sakit. Apa yang dilakukan bukan karena diutus gereja, tetapi oleh karena Tuhan yang menggerakkan. Dengan kesadaran yang demikian pendamping dimampukan memiliki hati yang mampu menghilangkan hal-hal negatif dalam pikiran sehinga dapat mendampingi orang sakit untuk memiliki energi baru.

Hal ini mengacu pada sifat gembala seperti perumpamaan yang tertuang di dalam Alkitab yaitu memelihara, menguatkan, mengobati domba yang sakit, memiliki hati yang mau menjaga. Sifat gembala tersebut merupakan gambaran adanya kebutuhan untuk menyentuh keempat aspek holistik yang dimiliki manusia antara lain aspek spiritual yang menggambarkan bagaimana relasi seseorang dengan Tuhan. Aspek mental atau psikologi seseorang. Aspek fisik yang menyangkut sandang pangan papan. Aspek sosial yang berisi gambaran relasi seseorang dengan sekitarnya.

Ibu Kartika yang akrab dipanggil Bu Ika ini menyampaikan bahwa ke empat aspekholistik tersebut saling terkait dan bergantian. “Bagaimana kita bisa mengenali ke 4 hal tersebut, dengan perkunjungan yang kontinyu yang bisa membantu menyelesaikan 4 hal tersebut,” penjelasannya lebih lanjut.Dalam simulasi, para peserta diajak untuk belajar hadir bagi orang lain dengan hati. Kehadiran merupakan keterampilan dasar pendampingan khususnya dalam dunia pastoral.

Kehadiran seorang pendamping dinyatakan dalam tahap awal, pertengahan, akhir sebagai satu kesatuan proses. Dalam proses tersebut ada ketrampilan mendengar, dalam arti memperhatikan kata demi kata yang diucapkanuntuk menangkap gejala persoalan yang diungkapkan pasien. Selanjutnya memperjelas informasi yang diperoleh dengan mengulang apa yang telah diungkapkan pasien. Termasuk juga megajak pasien untuk melihat dari sudut pandang lain atas persoalan yang dirasakan.

Bila perlu juga mengajak pasien menafsirkan pengalaman yang terjadi guna menggali hal-hal positif untuk menjadi masukkanmembangun.Termasuk membangun kembali relasi dengan sekitar yang mungkin rusak akibat sakit penyakit pasien. Hal ini dilakukan bisa dilakukan untuk menambah informasi dengan pertanyaan memancing pasien untuk mencari kesimpulan atas apa yang sudah diutarakan selama proses.

Harapan Ke Depan

Harapannya dengan bangunan pengertian mengenai pendampingan pastoral, fungsinya, serta aspek-aspek holistik dalam diri manusia, semakin menolong pendamping mengenali tahapan dan pendekatan dalam pendampingan pastoral. Mereka juga beroleh bekal informasi karakter dan keterampilan yang perlu dimiliki dalam melakukan pendampingan pastoral. Pelatihan ini warga gereja yang tergabung dalam tim perkunjungan kian diperlengkapi dalam mengemban tugas pelayanan gereja. Terutama menjadi seorang pendamping pastoral yang holistik bagi orang yang sedang sakit. (SPS KY)