Berita

Kamis, 23 Juni 2016

Malam itu tim YAKKUM menemui Sukiyem, perempuan berusia 55 tahun lebih, yang menderita polio di kedua kakinya sejak lahir. Dia tinggal di Desa Purbowono Kecamatan Kaligesing bersama ayahnya yang telah berusia lebih dari 90 tahun dan mengalami penurunan pendengaran dan penglihatan karena usia lanjut.  Mobilitas Sukiyem terbatas dengan mengandalkan kekuatan tangan untuk bergerak dari tempat tidur dan dapur. Sesekali adiknya yang juga telah mempunyai cucu dan tinggal di dusun yang sama datang menengok  mereka.  Sehari-hari kegiatan mata pencaharian Sukiyem sangat terbatas.  Sempat merencanakan usaha pembuatan minyak kelapa murni (VCO) bersama Pusat Rehabilitasi YAKKUM, tetapi saat ini usaha itu belum dimulai karena kendala harga bahan mentah (kelapa) yang cenderung naik.  Rumah Sukiyem yang terbuat dari kayu dan beratap genteng tanah liat pernah dihantam batu seukuran rumah saat terjadi longsor beberapa tahun lalu namun Sukiyem tidak ingat persisnya tahun berapa kejadian itu. Dia dan orang tuanya hanya mendengar suara gemuruh dan tidak paham tanda-tanda akan terjadinya longsor sehingga tidak berusaha menghindar. Untung mereka selamat , hanya rumah yang rusak berat saat itu. Ya, rumah Sukiyem dan orang tuanya terletak di bawah sebuah tebing tinggi, seperti pada umumnya pemukiman warga di  wilayah Kaligesing yang terletak di dataran tinggi di Pegunungan Menoreh yang melintas sepanjang Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.  Belum lagi sinyal telephone yang timbul tenggelam (lebih sering blank spot) menyulitkan komunikasi di daerah tersebut.  Sukiyem maupun adiknya juga tidak mempunyai telepun genggam, tak tampak adanya radio atau alat komunikasi lain di rumah sederhana itu.  Saat terjadi hujan deras  yang mengguyur seluruh wilayah Pulau Jawa bagian Selatan sekitar tanggal 17-19 Juni 2016 kemarin, wilayah Kaligesing mengalami longsor parah di beberapa titik, utamanya di Desa Jelok.  Sampai dengan Senin 20 Juni 2016 diberitakan 47 orang tewas  dan 15 orang dinyatakan hilang akibat longsor di  Jawa Tengah[1].

Menurut catatan pendampingan Pusat Rehabilitasi YAKKUM terdapat lebih dari 150 penyandang disabilitas yang tinggal di wilayah Kaligesing, 57 di antaranya mengalami disabilitas psikososial atau mental, 4 anak mengalami disabilitas ganda (tuna daksa dan mental retardasi), 124 orang dewasa dan 14 anak menyandang tuna daksa.  Dari rapid assessment yang dilakukan bersama YAKKUM Emergency Unit, diketahui bahwa kebanyakan daerah pedesaan di Purworejo dihuni oleh lansia. Data Badan Pusat Statistik 2014 menunjukkan bahwa pada tahun 2020 rasio jumlah penduduk lansia akan mencapai 10% dari populasi total. Di Provinsi Jawa Tengah, rasio penduduk lansia mencapai 13,9 % jauh lebih tinggi dari rerata nasional.   Saat mengunjungi rumah Sukiyem malam itu, kami menjumpai angka statistik tersebut dalam diri keluarga tersebut.  Ditambah lagi dengan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana[2] yang menyampaikan bahwa secara nasional 40,9 juta jiwa terpapar langsung bahaya longsor sedang – tinggi, 3,2 juta di antaranya adalah lansia dan 323,000 adalah penyandang disabilitas.  Mereka terpapar longsor di saat musim penghujan karena sulit melakukan evakuasi dalam kondisi pemukiman di medan yang sulit, sarana komunikasi dan transportasi  terbatas, jalur evakuasi yang licin atau curam. Di samping itu informasi mengenai tanda peringatan awal akan terjadinya longsor dan langkah yang perlu mereka lakukan tidak mereka peroleh. “Kalau terjadi sesuatu yang mengakibatkan kematian, ya saya terima dengan pasrah” Jumantri (40 tahun) penyandang disabilitas lain di Kaligesing yang rumahnya terletak di tebing curam berbisik lirih.  Keterbatasan sarana prasarana,informasi dan pengetahuan menyebabkan kemampuan memproteksi diri dari bencana khususnya longsor sangat minim. Padahal, longsor, banjir dan puting beliung sebagai fenomena ancaman alam akibat aktivitas hidrologis menduduki ranking tertinggi dalam intensitas bencana di Indonesia (95%).

Belum lagi adanya masalah penyulit yang terjadi sebelum bencana  yaitu kemampuan ekonomi yang rendah (baca: miskin) dan kurangnya pengetahuan dan kesadaran akan hak dan kondisi disabilitas, lansia dan kelompok rentan lainnya yang membuat mereka terpinggir dari arus besar upaya pembangunan yang mengedepankan pemenuhan hak dasar untuk menggapai visi “tidak boleh ada yang ditinggalkan[3] dalam respon kemanusiaan dan program pembangunan yang dicanangkan lebih dari 9000 orang dari 173 negara dalam World Humanitarian Summit  Mei lalu di Istanbul.

Sukiyem dan ayahnya mewakili wajah tantangan penanganan bencana di Jawa Tengah dan di Indonesia pada umumnya.  Kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana yang peka terhadap kebutuhan kelompok rentan dan inklusif merupakan keniscayaan yang perlu diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata (Ars/Juni 20, 2016)

[1] http://www.bnpb.go.id/berita/2984/korban-longsor-bertambah-47-tewas-dan-15-hilang

[2] https://twitter.com/BNPB_Indonesia/status/744800547434176513/photo/1?utm_source=fb&utm_medium=fb&utm_campaign=BNPB_Indonesia&utm_content=744800547434176513

[3] http://www.worldhumanitariansummit.org/live#