|
REFLEKSI AWAL TAHUN 2010:
Berharap dalam Terang Tahun Baru (Mat 5: 14-16)
Di sebuah ladang yang subur terdapat 2 buah bibit tanaman yang terhampar. Bibit pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar,. Aku ingin menjejakkan akarku sangat dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semus tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, serta kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.” Dan bibit yang pertama ini pun tumbuh, makin menjulang.
Bibit yang kedua bergumam, “Aku takut, Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.” Dan bibit itupun menunggu dalam kesendirian. Beberapa kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi dan memakannya segera.
Setiap tahun baru, kita identik dengan menaikkan harapan. Apakah yang anda pikirkan untuk harapan dalam pekerjaan anda di tahun ini? Apakah di PHK, dsb. Harapan itu selalu membawa pada kemajuan karier kita masing-masing dan tidak mungkin terjadi begitu saja. Harapan itupun juga merupakan pilihan bagi kita. Pilihan yang pertama adalah harapan itu akan terwujud jika ada usaha, karya, kerja dan keyakinan seperti yang digambarkan oleh bibit tunas pertama tadi. Hasilnya pun, ia dapat tumbuh dan semakin menjulang. Pilihan yang kedua adalah harapan yang sia-sia dan tidak akan terwujud karena adanya keraguan, kepesimisan, kengerian dan keraguan yang diciptakannya sendiri. Sehingga alhasil yang di dapat adalah bibit itu tidak tumbuh dan sia-sia dengan dimakan oleh seekor ayam.
Demikian dengan kita, harapan itu akan terwujud dengan kita wujudkan dalam karya dan nyata dalam pekerjaan kita yang akan dijalani setahun kedepan ini.
Lalu apa yang diharapkan dari HARAPAN itu sendiri? Atau HARAPAN dari HARAPAN tiu sendiri. Melalui perikop ini, yang diharapakan dalam HARAPAN itu sendiri adalah Harapan dalam TERANG (ayat 15-16). Artinya, adalah bahwa kita adalah terang (ayat 14) dan setiap kita telah menerima terang dalam NATAL maka sepatutnya membentangkan sayap dari harapan itu agar terang yang telah diterima itu juga dapat dirasakan oleh orang lain. Harapan memberikan terang untuk sekeliling kita. Harapan itu tidak diletakkan pada seorang diri saja. Semisal: harapan untuk tetap semangat dalam bekerja, harapan untuk selalu bersukacita dalam setiap suka dan duka bekerja. Harapan dalam bersikap agar selalu jujur dan benar. Sehingga, disekeliling kita pun ikut merasakan sukacita, semangat, dan bersikap jujur dan benar dalam bekerja. Harapan dalam terang itu pun juga menjadi harapan yang akan dipancarkan oleh YAKKUM di tahun 2010 ini. Harapan untuk selalu bisa melayani dan membentangkan sayapnya untuk kemanusiaan. Seperti harapan dari bibit tunas pertama. Sehingga mereka yang melihat, menerima dan merasakan uluran tangan kita sebagai pribadi dan YAKKUM dapat memuliakan Bapa-Nya. (ayat 16).
Walau nantinya diperjalanan akan ada banyak rintangan yang akan menghalangi harapan itu terwujud, tetapi yang pasti Terang Yesus Kristus Anak Allah akan senantiasa menerangi kita semua untuk mewujudkan Harapan itu dalam karya dan kerja bukan dengan ketakutan.
|
|
|