Renungan

Rabu, 11 Juni 2014

Bahan : I RAJA-RAJA 17: 7-16

Ayat kunci : I RAJA-RAJA 17:14“Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi."

Siang tadi saya lihat laki-laki itu di perempatan. Ia asyik memukul alat musik kecil mirip gamelan yang terdiri dari tiga besi berjajar. Bersama seorang anak kecil dan seekor monyet, laki-laki tersebut memainkan pertunjukan topeng monyet. Sementara si anak mondar-mandir meminta sumbangan, si monyet beratraksi, diiringi gemerincing musik laki-laki tadi. Saya terkesima. Perjuangan hidupnya sungguh hebat. Mereka berusaha mencari nafkah lewat pekerjaan yang tidak lagi populer dan tidak dilirik orang. Dalam hati saya bertanya, apakah anak kecil tadi masih sanggup membayar biaya sekolah dari hasil jerih payah seperti itu.

Dari Renungan ini kita belajar dari iman seorang janda di Sarfat. Dalam perikub diceritakan bahwa beban hidup si janda sangatlah berat. Ia seorang janda yang mandiri, yang tidak bisa lagi menggantungkan hidup kepada suami. Kondisi ini mengharuskannya bekerja keras menghidupi sang anak. Pekerjaan sebagai pengumpul kayu api mungkin satu-satunya keahlian yang bisa dia kerjakan. Pekerjaan ini pun hasilnya pasti tidak seberapa. Di ayat yang ke 12 ditulis bahwa sang janda hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak sebagai  persediaan hidup untuk keluarganya.  Penderitaannya semakin lengkap dengan kondisi kekeringan yang tengah melanda Sarfat.

Namun ternyata ibu janda ini adalah perempuan yang kuat. Imannya kepada Tuhan membuat si janda berani membuat keputusan untuk selalu memberi. Ibu janda ini mau memberikan persediaannya yang terbatas kepada Elia. Bukan karena Elia meminta, tetapi karena Tuhan telah memerintahkan kepadanya untuk memberi makan seseorang. Janda ini pasti mengerti konsekuensi memberi dari persediaan makanan yang terbatas, seperti yang dikatakannya kepada Elia di ayat yang ke 12 tadi. Ketaatan, ketekunan, dan rasa bersyukurnya mengalahkan rasa khawatir akan hari esok yang gersang. Yang kita baca selanjutnya, iman ibu janda ini berbuah kecukupan. Ternyata respons atas kehadiran dan permintaan Elia telah memberikan jawaban atas ketekunan iman sang janda.

Setiap orang pasti mengalami kesesakan dari pergumulan dan beban hidup. Kita mungkin sering berkeluh kesah mengapa Tuhan mengizinkan kesusahan terjadi. Kita mungkin juga bertanya mengapa Tuhan meletakkan kita dalam kondisi yang tidak nyaman. Mengapa kondisi ekonomi kita kekurangan, mengapa kondisi keluarga kita berantakan, mengapa kita belum memiliki pekerjaan, mengapa pekerjaan kita sangat berat, mengapa kita belum juga mendapat jodoh yang tepat, mengapa kita sering dikucilkan, mengapa kita belum dikaruniai anak, pertanyaan-pertanyaan semacam ini seringkali membawa kita ke arah yang salah. Semoga renungan malam ini kembali mengingatkan dan meyakinkan kita bahwa Tuhan selalu menjawab ketekunan iman kita. Ketekunan iman harus menjadi kekuatan untuk terus berusaha memberikan yang terbaik untuk orang yang kita sayangi dan juga lingkungan kita, bahkan ketika kita berada di tengah kondisi yang berat.

Bagian kita adalah bertekun dan bersyukur, bagian Tuhan adalah memberi jawaban tepat pada waktunya.