Renungan

Kamis, 12 Februari 2015

Filipi 1:21-22 “Bekerja Memberi Buah”

Dalam kehidupan kita masing-masing pasti sudah akrab dengan persoalan yang timbul saat sedang memperjuangkan sesuatu. Ketika ingin mencapai sebuah keinginan yang mungkin sudah didambakan maupun yang keinginan tentang terpenuhinya sebuah kebutuhan. Sama seperti bekerja, pasti sudah barang tentu mengharapkan buah dari pekerjaan.

Bisa saja persoalan itu terkait dengan pribadi kita, berhubungan dengan relasi dengan pasangan atau keluarga dan teman karena sedang menggarap sesuatu. Mungkin juga masalah di dunia kerja, dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan secara terperinci.

Sudah tentu persoalan atau masalah yang muncul karena suatu tujuan akan membawa kita pada situasi kurang mengenakkan atau penderitaan. Malah bisa saja menyebabkan kegagalan dan hal negatif lainnya.

Paulus

Jika melihat perikop yang mencakup nats kali ini, kondisi yang sama juga tampak dengan jelas. Paulus yang berbenturan dengan persoalan atau masalah. Parahnya, Paulus pada saat itu berada di penjara pula.

Paulus bukanlah seseorang yang baru mengenal penjara, ia sudah beberapa kali keluar masuk penjara. Sebab musababnya adalah karena pewartaan Paulus mengenai Kristus. Sejak ayat 12 hingga 19 Paulus ingin memberitahukan bagaimana perasaannya. Dinamika curhatan Rasul yang tersohor ini tersurat dengan jelas dalam kata dan frasa yang berkesan pembelaan. Juga terlihat bagaimana Paulus meneduhkan hatinya dengan apa yang Ia tulis pada ayat 18-19.

Dinamika perasaan yang tertuang dalam awal perikop ini sepintas memberikan gambaran betapa peliknya benturan persoalan dan masalah yang dialami Rasul Paul ini. Jika dibayangkan peristiwa itu terjadi sekarang, mungkin semacam orang dipenjarakan karena membela apa yang diyakini sebagai Tuhan.

Buah dari pekerjaan

Meski Paulus memanjatkan harapannya pada Tuhan mengenai kerinduan akan pemulihan seperti di ayat 20. “Tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sedia kala,” demikian tulis Paulus. Sisi manusia Paulus lebih melihat pumulihan karena sudah membela Tuhan adalah wujudnya saja, yaitu ketenaran seperti masa lalunya.

Bahkan di ayat 23 Paulus kembali menunjukkan kesempatannya untuk mendapat pemulihan dengan pergi bersama kristus. Walaupun disana Paulus menunjukkan cara kepergiannya dengan diam-diam. Sebuah pemulihan yang berkesan instan.

Paulus sudah berupaya untuk mewartakan Kristus ke berbagai antero. Oleh karena panggilannya Paulus untuk mewartakan Kristus itulah kemudia ia mengalami kesulitan-kesulitan. Bisa dimaklumi kemudian ketika Paulus meminta Tuhan untuk memperbaiki kondisi karena apa yang telah dikerjakan Paulis itu untuk Tuhan sendiri.

Namun Tuhan berkehendak lain, pengenalan manusia pada pemulihan dari Tuhan lebih kepada proses. Bukan sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit. Di ayat 20 bagian akhir sampai dengan 22 Paulus sadar dan kemudian menunjukkan perubahannya. Perubahan yang lahir karena pertobatannya.

Rasul ini memilih untuk tinggal di dunia untuk mendampingi jemaat Kristus. Khususnya jemaat Filipi yang sedang disuratinya itu. Paulus ingin memberikan contoh mengenai semangat untuk terus maju yang lahir karena suka cita dalam iman. Maju menghadapi persoalan dan masalah yang menyulitkan, seperti yang dicontohkan oleh Paulus yang pada saat itu dipenjara tetapi tetap mengusahakan bersurat dengan Jemaat Filipi.

Buah itu berupa nilai

Dari perikop ini kita memperoleh teladan yang patut untuk dicontoh. Bahwa bekerja memberi buah itu tidak sekadar keamanan dan kenyamanan atau derajat, pangkat, brayat. Bukan hanya berhenti pada reputasi agar dikenang sepanjang masa oleh khalayak.

Melainkan bekerja memberi buah itu untuk sebuah nilai Kristen, kongkritnya memberikan serta memelihara semangat untuk terus maju yang lahir karena suka cita dalam iman. Seperti pendampingan Rasul Paul jemaat Filipi.

Apakah bekerja memberi buah nilai-nilai Kristen itu menjadi sesuatu yang sederhana atau tidak, itu kembali pada kita masing-masing. Amin. (SPS KY)